(GRAFIS: HERPRI KARTUN – LAYOUT: RYGEN K.YUDHA/RADAR JOGJA)

PERJALANAN menuju ke Kampung Emas tidak membutuhkan effort besar. Ternyata cukup dekat dari Jogja. Rutenya mudah untuk dijangkau. Pemandangan selama perjalanan menuju ke sana memanjakan mata.

Sekitar 300 meter sebelum sampai ke Kampung Emas, hamparan terasering sudah terlihat. Disarankan berhenti sejenak, memandang ke arah luar jendela mobil, dan manjakan mata dengan hijaunya persawahan.

BACA DULU: Perpustakaan mini menjadi pendukung fasilitas di Kampung Emas di Plumbungan, Putat, Patuk, Gunungkidul. (REREN INDRANILA/RADAR JOGJA)

Ada apa di Kampung Emas? Selain menyajikan pemandangan persawahan yang ijo royo-royo, pengunjung bisa menikmati makan siang dengan menu lengkap dalam satu tampah. Terdiri dari ayam ingkung, tempe goreng, gudangan, trancam, oseng tempe, sambal, lengkap dengan peyek kacang yang renyah. Nasi yang disajikan pun gurih sehingga membuat perut ingin terus diisi.

Sajian itu makin lengkap dengan wedang serai yang airnya direbus di atas kayu bakar. Sensasi rasanya pun makin ndeso, makin syahdu. Hangatnya wedang serai sangat pas dengan angin sepoi-sepoi yang menghampiri gazebo yang berada tepat di pinggir sawah.

Menu tersebut cukup untuk mengisi perut sekitar empat sampai lima orang. Dengan harga terjangkau Rp 165 ribu untuk menunya, ditambah Rp 10 ribu untuk sewa gazebo.

“Khusus makan siang. Tapi, kalau mau ke sini harus reservasi dulu. Kalau langsung ke sini belum tentu tersedia,” ujar pengelola Kampung Emas Gunawan.

Kenapa harus reservasi? Menurut Gunawan, karena pemasakan ingkung dan uba rampe-nya membutuhkan waktu lama. Semua dilakukan tradisional, pemasakan ingkung menggunakan tungku kayu bakar dan membutuhkan waktu tiga jam.

“Jadi biar saat sampai sini, masakannya pas matang. Enak disantap saat hangat-hangat,” ungkapnya.

MANIS GURIH: Santap siang semakin nikmat saat dinikmati di pinggir sawah yang hijau. (REREN INDRANILA/RADAR JOGJA)

Kampung Emas tak hanya menyajikan menu santap siang dan pemandangan dengan sensasi “Ubud”-nya. Di sana juga terdapat perpustakaan mini. Jadi di sela menunggu makanan matang, bisa baca-baca dulu. Atau bisa juga turun ke persawahan untuk sekadar selfie.

“Lumayan koleksi bukunya banyak, ada buku untuk anak-anak juga,” ujar salah seorang pengunjung Kampung Emas, Rachel Amanda Aura. (ila/iwa/mg1)